Fakta Ilmiah: Mengapa Kolagen di Kulit Menurun Saat Usia Bertambah dan Cara Mengatasinya
Kulit yang sehat dan awet muda sangat bergantung pada kolagen, protein penting yang memberikan elastisitas, kekencangan, serta membantu menjaga kelembapan kulit. Namun, produksi kolagen menurun seiring bertambahnya usia. Mari kita kupas faktanya secara ilmiah, dan pelajari berbagai cara efektif merawat serta meningkatkan kolagen untuk menjaga keremajaan kulit.
Apa itu kolagen dan perannya dalam kulit?
Kolagen adalah protein paling melimpah di tubuh. Terdiri dari asam amino yang ditemukan di kulit, tulang, otot, tendon, dan ligamen. Khusus di kulit, kolagen berada di dermis, berfungsi sebagai “kerangka” yang menjaga kelenturan, menghidrasi, serta mendukung regenerasi kulit.
Seiring waktu, jumlah dan integritas kolagen menurun secara alami. Akibatnya kulit tampak lebih tipis, kering, dan mulai muncul kerutan.
Penyebab ilmiah menurunnya kolagen seiring usia
Beberapa faktor berikut mempercepat penurunan kolagen:
a. Penuaan Alami
Penuaan alami adalah penyebab utama menurunnya kolagen pada kulit. Kolagen adalah protein struktural yang bertanggung jawab menjaga kekencangan dan elastisitas kulit. Seiring bertambahnya usia, tubuh memproduksi kolagen dengan kecepatan yang lebih lambat, sementara serat kolagen yang sudah ada mulai melemah dan rusak. Proses ini terjadi secara alami pada semua orang, umumnya mulai terasa sejak akhir usia 20-an atau awal 30-an. Akibatnya, kulit mulai kehilangan kekencangan, muncul garis halus dan kerutan, serta terasa lebih kendur. Hal ini terjadi karena jaringan penopang kulit tidak lagi sekuat saat muda, sehingga struktur kulit menjadi lebih lemah dan terlihat menua.
b. Paparan Sinar UV (Photoaging)
Paparan sinar ultraviolet dari matahari merupakan salah satu faktor eksternal utama yang mempercepat kerusakan kolagen, proses ini disebut dengan photoaging. Sinar UV menembus lapisan kulit dan merusak serat kolagen serta elastin yang berada di dermis. Siapa pun yang sering beraktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan seperti sunscreen sangat rentan mengalami kerusakan ini, termasuk anak muda. Sinar UV merangsang enzim pemecah kolagen, sehingga mempercepat proses penuaan kulit jauh lebih cepat dari seharusnya. Akibatnya, kulit menjadi lebih cepat kendur, timbul kerutan, dan tampak kusam.
c. Kebiasaan Merokok
Merokok memberikan dampak buruk bagi kesehatan kulit karena kandungan nikotin dan ribuan bahan kimia lainnya. Zat-zat ini menyempitkan pembuluh darah, menghambat aliran oksigen dan nutrisi ke kulit, serta merusak kolagen dan elastin. Siapa pun yang aktif merokok, bahkan perokok pasif dalam jangka panjang, bisa mengalami kerusakan jaringan kolagen. Nikotin juga menurunkan kemampuan kulit dalam memperbaiki diri. Proses ini menjelaskan mengapa kulit perokok cenderung lebih kusam, cepat berkerut, dan tampak lebih tua dibanding usia sebenarnya. Regenerasi kulit pun menjadi lambat karena kurangnya nutrisi yang dibutuhkan.
d. Kurang Tidur
Tidur yang cukup sangat penting bagi proses regenerasi kulit, termasuk pembentukan kolagen. Saat tidur, tubuh memproduksi hormon pertumbuhan yang membantu memperbaiki sel-sel kulit yang rusak. Namun, jika seseorang sering kurang tidur—terutama kurang dari 6 jam per malam—produksi kolagen akan terganggu. Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja yang memiliki gaya hidup sibuk, insomnia, atau kebiasaan begadang. Kurang tidur juga meningkatkan hormon stres kortisol yang mempercepat pemecahan kolagen. Akibatnya, kulit terlihat lebih kusam, muncul kantung mata, garis halus lebih cepat timbul, dan proses penuaan menjadi lebih cepat dari semestinya.
e. Konsumsi Gula Berlebihan
Mengonsumsi gula secara berlebihan dapat menyebabkan penurunan kualitas kolagen di kulit. Proses yang disebut glikasi membuat molekul gula menempel pada protein seperti kolagen, sehingga mengubah struktur dan fungsinya. Ini umumnya terjadi pada individu yang sering mengonsumsi makanan manis, karbohidrat olahan, atau penderita diabetes. Kolagen yang mengalami glikasi menjadi kaku dan rapuh, sehingga sulit untuk diperbaiki dan digantikan. Akibatnya, kulit kehilangan elastisitas, tampak kendur, dan garis-garis halus muncul lebih cepat. Gula juga memicu peradangan kronis yang makin mempercepat kerusakan jaringan kulit.
f. Ekspresi Wajah dan Gerakan Otot Berulang
Ekspresi wajah seperti tersenyum, mengerutkan dahi, atau menyipitkan mata memang merupakan bagian dari aktivitas normal, namun gerakan yang berulang terus-menerus bisa memicu terbentuknya garis halus di wajah. Siapa pun bisa mengalaminya, terutama orang yang sudah mengalami penurunan elastisitas kulit akibat usia. Saat cadangan kolagen menipis, kulit tidak lagi lentur untuk kembali ke posisi semula setelah berkontraksi. Lipatan akibat ekspresi wajah yang tadinya hanya terlihat saat bergerak pun akhirnya menetap menjadi kerutan permanen. Maka dari itu, kolagen yang cukup penting untuk menjaga kulit tetap lentur agar tidak mudah "mengunci" garis-garis halus tersebut.
g. Faktor Genetik dan Penyakit
Selain faktor eksternal, genetik dan kondisi medis tertentu juga bisa memengaruhi produksi kolagen secara signifikan. Beberapa orang dilahirkan dengan kelainan genetik seperti sindrom Ehlers–Danlos yang mengganggu pembentukan jaringan ikat, atau menderita penyakit autoimun seperti lupus dan rheumatoid arthritis yang menyerang jaringan tubuh, termasuk kolagen. Orang-orang dengan kondisi ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami kulit kendur, elastisitas rendah, atau luka yang sulit sembuh. Mekanismenya, tubuh tidak mampu memproduksi kolagen dengan normal, atau malah menghancurkan kolagen yang ada akibat respons imun yang tidak terkendali.
Dampaknya terhadap kulit
- Kulit kering dan kusam: Lapisan kulit yang tak cukup kolagen jadi mudah kehilangan hidrasi dan perlindungan, terlihat kusam, kering, dan dehidrasi.
- Kerutan dan garis halus: Elastisitas berkurang, sehingga garis wajah menempel permanen saat ekspresi wajah .
- Lingkaran hitam dan pigmentasi: Kulit di bawah mata kehilangan elastisitas karena kolagen hilang → terjadilah lingkaran hitam.
- Penuaan dini: Kombinasi paparan UV, pola gaya hidup buruk, serta genetik mempercepat proses penuaan, dan kulit tampak lebih tua dari umur sebenarnya.
Cara mengatasi dan meningkatkan produksi kolagen
Berikut cara praktis dan ilmiah untuk menjaga atau meningkatkan kolagen, agar kulit tetap kenyal dan awet muda:
a. Konsumsi makanan kaya asam amino & vitamin C
Kolagen terbentuk dari asam amino, sehingga penting mengonsumsi protein lengkap seperti susu, daging, telur, dan makanan laut. Tambahkan bahan tinggi vitamin C yaitu jeruk, tomat, mangga untuk mempercepat sintesis kolagen.
b. Suplemen kolagen
Studi menunjukkan suplemen kolagen meningkatkan elastisitas dan kelembapan, bahkan membantu memudarkan kerutan serta memperlancar aliran darah. Namun, sebaiknya dikonsumsi berdasarkan saran dokter.
c. Suntik kolagen atau filler
Cara medis ini dapat mengisi kembali kolagen di area tertentu dan memudarkan garis halus, tapi harus dilakukan oleh tenaga profesional dan berdasarkan konsultasi medis.
d. Gunakan tabir surya setiap hari
SPF ≥ 30 melindungi kulit dari sinar UV yang memecah kolagen dan menuntun peradangan. Ini adalah langkah utama agar kolagen tetap utuh.
e. Hentikan kebiasaan merokok
Ramadhan Glowing
Diskon hingga 50% untuk rayakan momen kemenangan dengan kulit cerah, sehat, dan glowing maksimal!

Berhenti merokok membantu menghentikan kerusakan kolagen dan meningkatkan nutrisi bagi kulit melalui aliran darah yang lebih lancar.
f. Tidur cukup & berkualitas
Minimal 7–8 jam tiap malam untuk mendukung regenerasi sel dan sintesis kolagen. Kurang tidur bikin produksi kolagen terganggu, membuat kulit lebih cepat tua.
g. Kurangi konsumsi gula
Dengan membatasi gula, Anda mengurangi peradangan dan meminimalkan kerusakan kolagen tubuh .
h. Olahraga rutin
Aktivitas 3x per minggu selama 45 menit meningkatkan sirkulasi darah, membawa oksigen dan nutrisi lebih baik ke kulit, mendukung regenerasi, dan meremajakan kulit.
i. Pakai serum dan retinol
Serum dengan vitamin C atau hyaluronic acid mendorong sintesis kolagen dan menjaga hidrasi epidermis. Retinol (turunan vitamin A) terbukti meningkatkan ketebalan epidermis, merangsang kolagen, dan memperbaiki elastisitas kulit wajah.
- Retinol juga membantu meratakan tekstur, memudarkan bintik hitam, dan melawan jerawat.
- Mulailah perlahan (2x seminggu malam). Hindari area sekitar mata dan gunakan sunscreen di pagi hari.
j. Jaga ekspresi wajah
Hindari ekspresi wajah berlebihan untuk mencegah garis halus akibat lipatan kulit yang terus-menerus .
Tips tambahan agar perawatan maksimal
- Rutin membersihkan wajah (pagi & malam, terutama setelah berkeringat).
- Gunakan pelembap lembut dan bebas alkohol, sesuai jenis kulit.
- Minum air putih cukup (2 liter/hari atau 8 gelas), karena hidrasi mendukung fungsi skin barrier dan elastisitas kulit.
- Batasi alkohol karena dehidrasi memperburuk kondisi kulit .
- Konsultasikan ke dokter bila ingin suntik kolagen, suplemen, atau terapi kulit profesional untuk dosis aman dan hasil optimal .
Produksi kolagen akan menurun seiring usia disebabkan oleh faktor alami, UV, gaya hidup tidak sehat, genetik, dan ekspresi wajah berulang. Dampaknya berupa kulit kering, kusam, berkerut, dan tanda penuaan lainnya.
Namun, selalu ada jalan untuk memperlambat dan bahkan sebagian memperbaiki kerusakan tersebut:
- Pola makan sehat (protein + vitamin C)
- Suplemen atau suntik kolagen (dengan konsultasi medis)
- Skincare (tabir surya, serum, retinol)
- Gaya hidup sehat (tidur cukup, olahraga, berhenti merokok, kurangi gula)
- Konsultasi dokter bila perlu
Salah satu solusi efektif untuk mengatasi penurunan kolagen di kulit adalah perawatan skin booster Rejuran. Rejuran mengandung polinukleotida (PN) dari DNA salmon yang secara klinis terbukti mampu merangsang produksi kolagen, memperbaiki struktur kulit, dan meningkatkan elastisitas. Perawatan ini sangat cocok bagi kamu yang mulai mengalami kulit kendur, kerutan halus, atau tampilan kusam akibat penuaan dan paparan sinar UV. Kabar baiknya, Reglow Klinik by dr. Shindy Putri menyediakan layanan skin booster Rejuran dengan prosedur aman, tenaga profesional, dan hasil yang terlihat alami. Disuntikkan langsung ke lapisan dermis, Rejuran bekerja secara bertahap untuk meregenerasi jaringan kulit dari dalam, menjadikannya pilihan populer untuk kamu yang ingin tampil awet muda tanpa efek instan yang berlebihan.
Perawatan skin booster Rejuran bukan sekadar trend, tetapi didukung oleh riset ilmiah. The Effectiveness of Polynucleotides in Esthetic Medicine: A Systematic Review menunjukkan bahwa polinukleotida (PN), seperti yang terkandung dalam Rejuran, mampu mengurangi kerutan, memperbaiki tekstur kulit, dan meningkatkan elastisitas dengan hasil yang signifikan secara statistik dan efek samping umumnya ringan. Pada studi klinis lainnya, wanita berusia 30–40 tahun yang menerima injeksi PN pada pipi menunjukkan peningkatan ketebalan kulit dan penurunan pori serta kerutan tanpa efek samping serius . Lebih spesifik, Rejuran sebagai produk PN telah dieksplorasi dalam kombinasi perawatan untuk luka bakar dan bekas luka, dengan hasil berupa perbaikan tekstur kulit dan pengurangan tampilan jaringan parut .
Dengan kombinasi nutrisi, skincare tepat, dan gaya hidup seimbang, Anda dapat menjaga agar kolagen tetap optimal, sehingga kulit tetap elastis, lembap, dan awet muda meski usia terus bertambah.
Referensi
National Library of Medicine. Diakses pada 2025. The Effectiveness of Polynucleotides in Esthetic Medicine: A Systematic Review
Diulas oleh: dr. Yunita
Ramadhan Glowing
Diskon hingga 50% untuk rayakan momen kemenangan dengan kulit cerah, sehat, dan glowing maksimal!
